Gapai bahagia di hari yang fitri
mari terus berbagi
untuk nikmati rumah cantik
di jannah Allah nanti.
NURHASNAH190908.
Id … mubarak, kullu ‘amin wa antum bi khoir …!
27 September 2008Selamat Idul Fitri … 1429 H
27 September 2008Tak jemu meniti rindu
masuki rumah indah
di tepi sungai susu dan madu
beralas bantal-bantal cinta yang lebar
yang bertabur senyum pelayan hati
Wallahi …, aku iri
ingin segera bermain di titian pelangi.
190908.
Mengenang Ramadhan …
27 September 2008Ditinggalkan kekasih
seperti musim dingin yang sunyi
tertatih melangkah menuju nestapa hati … luka …
Ditinggalkan ramadhan …
seperti malam merangkak sepi
gemetar meraih qalbu Ilahi …tak terjangkau …
meretas jalan abadi
meraih mimpi berumah beratap pelangi
yang dikelilingi sungai berwangi kesturi …
Duh Rabbi …, sampaikah daku dalam ridlaMu?
Ruang Diklat Prov DKI, Senin, 150908-14.16.
Mengenang sahabat … SRI KUNTARI REZEKI SMKN 30 Jakarta
27 September 2008Pagi itu kami sedang khusyuk mendengarkan materi diklat, tiba-tiba temanku Pak Gendra menyampaikan berita yang menghentakkan jiwaku. Kami keluar ruangan dan membaca SMS yang masuk di HPnya yang isinya mengabarkan seorang sahabat kami telah menghadap Rabb yang menciptakannya. Ah … nama SRI KUNTARI REZEKI adalah nama yang selamanya kuingat, karena kami di 30 sepanjang sore menghabiskan waktu bersama pulang sekolah, ngobrol2, tidur2 ayam di metro mini, naik bajaj BBG, naik taxi bertarif lama, dan di beberapa waktu terakhir Kuntari membawa mobil sendiri, dan aku kecipratan rezeki ini, pulangnya nebeng sampai Pondok Labu.
Tapi pagi itu … segera kusadari kami tak akan pernah pulang bareng lagi, karena Kuntari mendahului aku menemui Rabb yang sama-sama kami kangeni.
Bersegera masuk kembali ke ruangan, HPku yang sdh disilent bergetar, berturut-turut tidak kurang dari 5 SMS mengabarkan berita duka. Aku sediiihhh, aku menangis sendiri, tidak dalam hati tapi betul2 menangis, aku mengingat kamu, Kunt … ! Seperti siang ini saat aku menulis berita ini, aku kembali menangis, aku bersedih mengingatmu, kamu sedang dalam proses apa bersama malaikat2 di sana? Kepergianmu kembali mengingatkanku betapa kematian itu dekaaaat, dekat sekali, bahkan kali ini mengajakmu, teman jalan pulang setiap sore di 30 dahulu, sebelum Pebruari 2008 saya pindah ke 38. Allah, betapa kuasaMu, tingginya kehendakMu, betapa hebatnya skenarioMu, aku tidak bisa membacanya sama sekali. Rabb, aku tidak akan bertanya mengapa, aku tahu biyadikal khoir, tiada yang pernah salah dalam ketetapanMu. Aku berduka iya … bersedih … iya, aku pilu membayangkan Pepi dan Ovy yang berjalan mengisi hari-harinya tanpa Kuntari, ibu yang menjadi pijakn mereka. Aku bergetar membayangkan suaminya, seorang diri mendampingi kedua gadisnya. Duuhh, Rabbi, betapa tak berdayanya kami di haribaanMu, betapa kami perlu uluran kasihMu. Allah, muarakan doaku pada keikhlasan hati menerima takdirMu, membaca satu demi satu kehendakMu pada potret kehidupan kami. Amin. Selamat berjumpa dengan Arrahim, ya Kunt, semoga Allah menempatkanMu di tempat yang mulia di sisiNya, di tempat yang tiada lagi kesakitan dan penderitaan fisik yang kamu tutupi dari mata kami teman-temanmu. (betapa beratnya perjuangan Kuntari menghadapi penyakitnya sama sekali dia tidak pernah menampakkannya secara nyata, aku tahu dia sakit, tapi aku tidak tahu betapa sakitnya itu perlahan-lahan mengurangi jarak tempuhnya menemui Tuhannya). Untuk Pepi dan Ovy, semoga Allah menggantikan kepergian ibu dengan kemudahan menggapai ridloNya. Tumbuhlah menjadi gadis yang sholehah agar mimpi ibu menjadi nyata, kalian akan menjadi jalan lurusnya yang mulus memasuki rumah cantik di hari pembalasan kelak. Amin.
Hari itu aku menulis ini untuk Kuntari:
Kunt …,
Selamat jaan, selamat menikmati alam yang tidak akan membuat kamu sakit lagi
Selamat menikmati rengkuhan kasih Allah yang menyayangimu, yang menjemputmu
lebih dahulu dari kami
Sesungguhnya kamu memang bukan milik siapapun karena kamu milikNya
dan sekarang kamu tunaikan ajakanNya, kamu berjalan menemuiNya sendiri …
dalam keabadian yang menenteramkan …
Kunt…, aku sedih mengenangmu, tapi aku bahagia,
kamu telah berhasil melampaui fase itu,
fase kesakitan yang amat sangat, saat jiwa bergetar hebat dalam ketidakberdayaan
fase yang sama saat Rasul kitapun tidak kuasa untuk tidak menampakkan rasa
yang meluluhlantakkan jiwa …
Kunt…, semoga mimpi kita berumah cantik di jannah Allah nanti,
dapat kita nikmati sama-sama, saat ini kamu dahulu mencicipi sungai
rasa susu dan madu. NURHASNAH mengenang Rabu, 190908.
Ditulis oleh Nurhasnah
Ditulis oleh Nurhasnah
Ditulis oleh Nurhasnah