Mengenang sahabat … SRI KUNTARI REZEKI SMKN 30 Jakarta


Pagi itu kami sedang khusyuk mendengarkan materi diklat, tiba-tiba temanku Pak Gendra menyampaikan berita yang menghentakkan jiwaku. Kami keluar ruangan dan membaca SMS yang masuk di HPnya yang isinya mengabarkan seorang sahabat kami telah menghadap Rabb yang menciptakannya. Ah … nama SRI KUNTARI REZEKI adalah nama yang selamanya kuingat, karena kami di 30 sepanjang sore menghabiskan waktu bersama pulang sekolah, ngobrol2, tidur2 ayam di metro mini, naik bajaj BBG, naik taxi bertarif lama, dan di beberapa waktu terakhir Kuntari membawa mobil sendiri, dan aku kecipratan rezeki ini, pulangnya nebeng sampai Pondok Labu.
Tapi pagi itu … segera kusadari kami tak akan pernah pulang bareng lagi, karena Kuntari mendahului aku menemui Rabb yang sama-sama kami kangeni.
Bersegera masuk kembali ke ruangan, HPku yang sdh disilent bergetar, berturut-turut tidak kurang dari 5 SMS mengabarkan berita duka. Aku sediiihhh, aku menangis sendiri, tidak dalam hati tapi betul2 menangis, aku mengingat kamu, Kunt … ! Seperti siang ini saat aku menulis berita ini, aku kembali menangis, aku bersedih mengingatmu, kamu sedang dalam proses apa bersama malaikat2 di sana? Kepergianmu kembali mengingatkanku betapa kematian itu dekaaaat, dekat sekali, bahkan kali ini mengajakmu, teman jalan pulang setiap sore di 30 dahulu, sebelum Pebruari 2008 saya pindah ke 38. Allah, betapa kuasaMu, tingginya kehendakMu, betapa hebatnya skenarioMu, aku tidak bisa membacanya sama sekali. Rabb, aku tidak akan bertanya mengapa, aku tahu biyadikal khoir, tiada yang pernah salah dalam ketetapanMu. Aku berduka iya … bersedih … iya, aku pilu membayangkan Pepi dan Ovy yang berjalan mengisi hari-harinya tanpa Kuntari, ibu yang menjadi pijakn mereka. Aku bergetar membayangkan suaminya, seorang diri mendampingi kedua gadisnya. Duuhh, Rabbi, betapa tak berdayanya kami di haribaanMu, betapa kami perlu uluran kasihMu. Allah, muarakan doaku pada keikhlasan hati menerima takdirMu, membaca satu demi satu kehendakMu pada potret kehidupan kami. Amin. Selamat berjumpa dengan Arrahim, ya Kunt, semoga Allah menempatkanMu di tempat yang mulia di sisiNya, di tempat yang tiada lagi kesakitan dan penderitaan fisik yang kamu tutupi dari mata kami teman-temanmu. (betapa beratnya perjuangan Kuntari menghadapi penyakitnya sama sekali dia tidak pernah menampakkannya secara nyata, aku tahu dia sakit, tapi aku tidak tahu betapa sakitnya itu perlahan-lahan mengurangi jarak tempuhnya menemui Tuhannya). Untuk Pepi dan Ovy, semoga Allah menggantikan kepergian ibu dengan kemudahan menggapai ridloNya. Tumbuhlah menjadi gadis yang sholehah agar mimpi ibu menjadi nyata, kalian akan menjadi jalan lurusnya yang mulus memasuki rumah cantik di hari pembalasan kelak. Amin.
Hari itu aku menulis ini untuk Kuntari:

Kunt …,
Selamat jaan, selamat menikmati alam yang tidak akan membuat kamu sakit lagi
Selamat menikmati rengkuhan kasih Allah yang menyayangimu, yang menjemputmu
lebih dahulu dari kami
Sesungguhnya kamu memang bukan milik siapapun karena kamu milikNya
dan sekarang kamu tunaikan ajakanNya, kamu berjalan menemuiNya sendiri …
dalam keabadian yang menenteramkan …
Kunt…, aku sedih mengenangmu, tapi aku bahagia,
kamu telah berhasil melampaui fase itu,
fase kesakitan yang amat sangat, saat jiwa bergetar hebat dalam ketidakberdayaan
fase yang sama saat Rasul kitapun tidak kuasa untuk tidak menampakkan rasa
yang meluluhlantakkan jiwa …
Kunt…, semoga mimpi kita berumah cantik di jannah Allah nanti,
dapat kita nikmati sama-sama, saat ini kamu dahulu mencicipi sungai
rasa susu dan madu. NURHASNAH mengenang Rabu, 190908.

7 Balasan ke Mengenang sahabat … SRI KUNTARI REZEKI SMKN 30 Jakarta

  1. SITI NURLELA mengatakan:

    BU SUNGGUH PUISI IBU BAGUD BNGET SAYA MEMBACANYA DNGAT TERHARU DAN SAYA MERASAKAN APA YG IBU RASA KAN KESEDIHAN YG AMAT MENDALAM KEHILANGAN ORANG YG QT CINTAI DAN SAYANGI

  2. SITI NURLELA mengatakan:

    IBU BERBKAT SEKALI MENJDI PENULIS

  3. nurhasnah mengatakan:

    Alhamdulillah, terima kasih, Bu Nurlela, sudah tinggalkan jejak di rumahku ini juga untuk support yang Ibu berikan. Saat kutulis cerita itu, aku memang baru kehilangan sahabat guru di SMKN 30 dan saat saya baca komentar Ibu ini, tidak terasa menjelang 7 bulan Kuntari telah tiada …

  4. ummu kulsum mengatakan:

    ya allah saya baru baca komentar ini,,terasa badan saya langsung lemas,
    ya allah semoga bunda ku ini yang telah memberikan qu support selama aku sekolah di smk n 30 jakarta almarhum 2 tahun menjadi wali kelas ku,,
    ibu maaf kan kami,,,,,
    ummu kulsum & alumni tata busana angkatan 2003

  5. Nurhasnah mengatakan:

    Percayakah kamu, Nak, setiap Ibu kembali membaca tulisan Ibu yg ini, Ibu kembali mengingat Bu Kuntari, Ibu kembali gerimis … kesedihan itu masih begitu lekat padahal Bu Kuntari meninggalkan kita sdh hampir 10 bulan … Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha wa akrim nuzulaha wa wasyid madkhalaha wagshilha bil ma’i was salji wal barad, aminn.

  6. alintya amelinda mengatakan:

    asslmkm.wr.wb ibu, mdh2an ibu msh ingat dgn sy, sy alintya lulusan 2004 tata busana. sy bru tau ttg bu kuntari dan sy pun turut sedih membaca tulisan ibu. karna memang sdh lama skali sy td kontak dgn tman2 dr 30. insya allah adik sy berniat msuk smk 30 thun ajaran bru nanti sy pun bermaksd mencari info melalu web.30 n btapa kgetnya ktika sy mbaca tulisan ibu ini. hnya doa yg tulus yg bs sy krim utk sesorang terkasih yg pernah tulus ikhlas membagikan ilmunya utk sy.. smoga Allah slalu mbrikan almarhumah kbahagian dlm tmpat yg baik dsisi-Nya, amiin..

  7. Nurhasnah mengatakan:

    Amiinn … Alintya, smg Allah mengijabah doa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: