Shaum Tasu’a dan Asyura – pengetahuan teranyar dalam pemahamanku akan diin-ku yang mulia al-Islam …


Mudah2n tidak terlampau terlambat, di usiaku menjelang 49 tahun baru malam kemarin aku tahu ada shaum Tasu’a yang diperintahkan Rasul namun belum sempat dilaksanakannya karena maut telah menjemput insan pilihan kekasih Allah yang menjadi teladan dalam kehidupan kita. Shaum tasu’a menjadi pembeda kita dari perayaan kesenangan bangsa Yahudi pada saat Rasulullah mendapati mereka berpuasa pada hari 10 Muharam, shaum Asyura. Andai Rasulullah hidup satu tahun kemudian dari tanggal 10 Muharam di tahun keberpulangannya, maka kita hari ini meneladani sabda beliau, kita shaum di dua hari di bulan yang dimuliakan Allah di antara empat bulan yang diberkahiNya.
Adalah suatu keniscayaan manakala aku berharap lebih baik dari hari ke hari akan kebermurahhatian Allah pada sepanjang langkah hidupku, satu di antaranya adalah ingin ku raih keberkahan hidupku di 62-ku yang bersahaja. Bersama puluhan siswa dan guru pilihanNya, Kamis ini kami shaum bersama, kantin sepi, tidak banyak terlihat botol2 air mineral di atas meja para siswa, di atas meja bapak/ibu guru, kendati ada satu dua tiga bahkan lebih yang terpaksa tidak melaksanakan shaum yang amat dianjurkan Nabiyullah ini dengan berbagai halangan. Beberapa sempat berniat ‘mudah2n tahun depan saya akan beroleh kesempatan shaum ini, Bu …’. It’s oke … pada saatnya Allah memang yang Maha Berkehendak, kita hanya harus berupaya agar kehendak Allah itu memback up langkah kita, agar suatu masa kelak kita tidak akan pernah menjadi hambaNya yang dengan ringan berkata:’aku tidak banyak berbuat apapun, aku mendapati segalanya baik-baik saja, TUhan tidak mengambil apapun dariku’. Wuih … pertama mendengar petitih demikian, aku sempat sebentar (hanya sebentar …) oh … mengapa demikian? Ternyata Allah memberi jawaban kepada Nabi atas pernyataan seperti ini:”wahai Nabi … katakanlah tidakkah dia menyadari bahwa ada banyak nikmat yang telah Ku lepaskan darinya? Nikmat berdekatan bermesraan denganKu telah kucabut, lalu dia mengatakan tidak ada apapun yg terlepas darinya?”. Rabbi … andaikan aku dapat bermohon padaMu, jangan lepaskan aku dari belaianMu setelah Kau nikmatkan diriku dalam kasihMu …
Tasu’a dan Asyura yang baru kali ini dua2nya ku lakukan menjadi shaum yang kurasa ‘agak berat’. Hujan sepanjang hari kemarin dan dilanjutkan dengan mendungnya yang hampir sepanjang hari ini, membawa diri dalam berpikir ‘enaknya menyeruput secangkir kopi hangat …’. ah … manusia banget aku ini …
Pamungkas adalah adzan Maghrib yang amat menggembirakan. Bersama puluhan anak2ku di rumahnya masing2, bersama gadisku di rumah kami yang sepi, bersama kekasih remajaku di kampusnya, bersama kekasih jiwaku di Bandung sana, bersama Bapak/Ibuku yang mulia, bersama teman2 62, teman2 SMK se Jakarta, teman2 se Indonesia raya, bersama2 ratusan muslim di hadapan Ka’bah yang kusaksikan melalui Telkom Vision, kami berbuka dengan mengharapkan maghfirah Ilahi. “Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizkika afthortu bi rahmatika ya Arhamar rahimin …”. Saat ini aku merindu kekasih hatiku, menatap putaran Tawaf yang tak pernah henti … ku bayangkan Rasulku, ku ingin Beliau melimpahkan syafaatnya untukku, untuk semua bagian hidupku, aamin …
Di rumah cinta, ba’da Isya bersama Nina, 141113 – 20.26.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: