Jelang sholat Jumat terakhir, 210314 di 62-ku


Inilah akhirnya, harus ku akhiri – sebelum cintamu begitu dalam – maafkan diriku tak mungkin setia – walaupun ku tahu cintamu lebih besar darinya …

Hampir 6 tahun 3 bulan ku jalani takdirku sebagai guru penerang jalan lurus anak2 negeri yang dititpkan Allah untukku di 38, 28, dan terakhir ini di 62. Tidak lebih panjang dari waktu dakwah Rasulku yang mulia di usia belia Islam diperkenalkan di kota Makkah yang mukarramah. Hari ini aku mengakhiri Jumatku yang senantiasa barokah di 62 sebelum Senin besok 62 akan diverifikasi oleh Sudin, kemudian siangnya kegiatan Sertijab, lalu sore kembali ke rumah cinta membawa ketetapan baru, besok Selasa, aku berangkat ke rumah baruku, rumah kelima sepanjang hayatku di komunitas SMKN DKI Jakarta. Selamanya adalah pengucapan syukur yang tak terkira, atas berbagai nikmat yang kudapatkan selama ini, Tak kan hendaknya ku nafikan betapa Allah begitu hebat menjaga diriku yang amat dhoif ini, alhamdulillah …
Maka ketika ku dapati diriku beberes untuk banyak jejak yang tertinggal, aku sudah tidak ingin gerimis lagi, ku tinggalkan 62-ku ini dengan keikhlasan yang senantiasa ku jaga agar syaitan tidak akan pongah mengangkangi persadaku.
Ku pastikan janji Allah tunai untukku, untuk kebaikanNya menopangku selama jelang 7 tahun ini, aku berupaya kuat dengan bergayut erat di lenganNya yang kokoh, bersandar nikmat di kekar pundakNya yang melenakanku, betapa aku senantiasa merasa indah bermanja2 di sudut mataNya yang bercahaya, aku suka aku sukacita aku bahagia, Allah memilihku untuk tetirah, untuk kembali menjadi penerang jalan menuju jannahNya bersama ratusan anak2 pertiwi yang menantiku di 41 nanti, insyaAllah …
Ku tinggalkan 62-ku sore ba’da Ashr nanti, kembali ke rumah cintaku dengan membawa selaksa waktu yang lebih luang untuk Afif dan Afinaku, untuk mengabdi khusus bagi sayap jiwaku, bermain dengan leluasa bersama sayap surgaku, bercengkrama di setiap sudut jalan panjang yang menghubungkanku dengan ladang indah yang ku bayangkan damai di tepi sungai susu dan madu, yang di sisinya ku akan rebah dalam dekapan bantal2 tinggi yang nyaman, yang tidak pernah ada suara orang berteriak-teriak, karena di dalam jannah yang seharum kesturi itu selalu lembut berkata2 bijak, selalu teduh berbagi cerita yang tidak mmbuat kecewa, selalu mendendangkan nyanyian indah senandung dzikir pada YM Penyantun, aku merasa terlena sukmaku dalam kasihNya yang tak menduakanku dengan kegetiran … aku ingin berlari menyambangi pelangi … Menikmati waktu Dzuhur … salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: