Alhamdulillah Bapak sembuh kembali … aha aha …


Lebih delapan bulan berlalu, sejak pertama kali bapak divonis dokter mengidap kanker usus besar yang harus segera dioperasi. Karena dokter bapak ada di MMC, maka sepakat bapak dioperasi di sana. Lebih dari satu bulan sejak mendapati bapak sangat lemah, namun dengan mempersatukan hati, kami mencoba meraih kasih sayang Allah. Bapak terlihat amat nestapa, dengan kantong kotoran yang harus dibawa kemana-mana, bapak menjalani hidup dengan perasaan nelangsa. Aku memahami derita bapak, kesabaran ibu yang luar biasa, kesedihan kami kakak beradik, inilah ketetapan Allah kami semua, innalillahi wa inna ilaihi rajiun, semua berpulang kepadaNya.

Beberapa pekan di rumah, bapak membiasakan diri dengan kantongnya. Namun takdir Allah tak dapat kami elakkan. Tiba-tiba saja bapak merasa penglihatannya berkurang pada Kamis malam, yang saat itu aku mengingatnya dalam pekat. Lalu Sabtu pagi kami mengajak bapak ke dokter mata di Fatmawati dan hasilnya masyaAllah … Dokter menyatakan bahwa mata bapak bila diibaratkan rumah, maka jendelanya sudah rapuh, rumahnya sudah rapuh, keduanya menggambarkan penderitaaan lanjutan yang akan bapak jalani, astaghfirullahal ‘adziim … kami bersedih … Sabtu itu bersama bapak, aku masih merasakan betapa bapak ingin sekali segera sembuh, namun malamnya, bapak merasakan penglihatan mata kirinya benar2 tiada. Cahaya hilang dan bapakpun merasa takdir berikutnya mesti dijalani. Kami terkejut dan merasakan betapa kasih sayang Allah sangat beraneka, dengan cara yang tiada terkira, kali ini bapak tidak bisa melihat dengan sempurna, kami pasrah.

Berbilang pekan, hari di rumah cinta tidak menjadikan bapak lebih sehat, akhirnya Fatmawati menjadi tempat yang kami pilih untuk proses penyembuhan bapak. Karena kankernya yang belum sembuh, maka bapak harus menjalani kemoterapi setiap bulan. Tiga kali menjalani kemo, bapak mengeluh tak tahan. Mual, badan tak enak, rambut rontok perlahan, nafas sesak, dan beberapa ketidaknyamanan yang akhirnya berujung pada kesimpulan, bapak tidak mau lagi menjalani kemonya, kami mengikuti kemauan bapak ini, karena pada akhirnya juga bapak harus masuk rumah sakit untuk persiapan operasi mata.

Bolak balik ke RS, bapak lemah nyaris tak berdaya, ibu terlihat letih namun berusaha kuat dengan kasih sayangnya yang tak berbatas. Setiap masuk RS, ibu jarang pulang ke rumah, bergantian kami menemani ibu setiap hari sepanjang malam. Bapak tidak dapat diajak berdiskusi apapun, bapak demikian tidak berdaya, tidak mau makan, akhirnya bapak disonde, mengalirkan makanan yang diblender melalui selang di hidung, bapak kesakitan, kedua lengan bapak sudah penuh dibolongi jarum suntik untuk dua tiga infus yang berganti setiap dua tiga hari, kaki bapak lemah sulit digerakkan, nafas bapak satu2 melalui selang oksigen, kasihan bapak … Belakangan kami tahu ternyata bapak lebih sering kehilangan daya ingatnya saat dirawat di RS menanti kekuatannya untuk dioperasi mata. Kami bersedih sambil terus mengupayakan bapak dapat dioperasi, dengan hasil yang sama2 telah kami ketahui, bapak akan kehilangan matanya dan diganti dengan bola mata palsu, sampai suatu hari tiba, dokter menyatakan bapak sudah dapat dioperasi …

Menanti bapak dioperasi adalah sebuah doa yang panjang. Tiba2 lampu ruang operasi merah dan dokter keluar meminta salah satu dari kami untuk menemuinya, maka Ira yang dokter yang paling pemberani masuk ke ruang OP, di luar kakak beradik gelisah dalam penantian. Ira datang dalam senyum lega, bapak baik2 saja, namun ada kekurangan jaringan untuk mata, maka dokter meminta persetujuan pihak keluarga untuk menyayat sedikit daging bibir bagian dalam untuk ditempelkan ke mata. Kami takjub, subhanallah … ada kaitan jaringan mata dan bibir … bola mata bapak diambilkan dari daging di paha belakangnya … ho ho ho … luar biasa Allah Yang Maha Mencipta … luar biasa Allah menitiskan pengetahuanNya untuk para dokter yang mulia dan cendekia …

Setelah lima jam berlalu, bapak bisa masuk ruang kamar rawat, alhamdulillah, bapak terlihat lebih baik, dengan mata kiri yang dijahit rapat. Lebih dari dua pekan, bapak akhirnya boleh pulang. Kontrol telaten bersama KIki yang luar biasa. Perlahan bapak mulai lagi merambahi hadirnya di rumah kami, bapak menemukan cinta kami … Ibu bahagia luar biasa, kami berenam mensyukuri semuanya.

Di penghujung Maret, bapak dibuka matanya, dan alhamdulillah sehat, walaupun bola mata palsunya tidak sesuai harapan, dokter bilang mau dioperasi lagi, tapi bapak dengan tabah bilang tidak usah, begini aja gak pa pa. Kami bersyukur bapak kembali dalam kesabarannya yang luar biasa. Saat ini mengenang kembali masa2 sakit bapak, kami  pahami betapa sakit itu menjadikan bapak kurang sabar, bicara lebih keras, hilang kesadaran, malas makan, sholat jadi susah, berwudlu diganti tayamum … oh oh … hanya Allah YM memberikan kebaikan, kesehatan, perasaan ringan, perasaan ridlo …

Hari ini hampir sebulan bapak di rumah, kami mendapati bapak yang kembali seperti dulu, belum sempurna tapi sudah jauh lebih baik, lebih sehat, lebih semangat, bapak menemui anak cucunya di ruang depan, duduk2 di beranda menikmati matahari dhuha, makan dengan cara biasa, bersahabat dengan kantongnya, bapak kembali menjadi bapak Ana yang penuh perhatian, penuh cinta pada anak2nya, pada cucu2nya, pada kesehariannya, pada ibu tercintanya … alhamdulillah ‘ala ni’matillah …

Allah Maha Kaya, Maha Sempurna dengan qudrah iradahNya, Allah yang mengajari kami sabar tawakal, Allah yang menuntun kami ikhlas ridlo, Allah yang mempersatukan hati kami berenam, menjalinnya berdua belas, dan mengikatnya berdua puluh empat, Allah yang mengajarkan kami senantiasa berkasih sayang, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin …

Fa biayyi ‘alaa irabbikumaa tukadziban??? for us Hassan Thondo’s family ‘nothing …’, sudah ku buktikan di sepanjang ayat2Nya yang panjang di kehidupan keluarga kami; Ibu Bapak cintaku, Ana, Bambang, Afif, dan Nina; Ani, Budi, Naufal, Andini, dan Aco; Ina, Barizi, Rayhan, Rafi, dan Ryfqi; Ipi, Riri, dan Shafira; Ira, Uus, dan Ridla; Kiki, Nevi, Namira, dan Fahri – betapa Allah tak pernah putus memberi apa yang memang kami harapkan, tak putus Allah mengirimkan apa yang kami rindukan …

Terima kasih yang setulus2nya untuk para dokter dan perawat di MMC, di RSF, untuk pak Yaman yang sering menolong kami di UGD, Uli Jairus perawat yang baik, teman2, keluarga, tetangga, yang banyaaaakkkkk rajin menjenguk mendoakan bapak, jazakumullah khairan katsiran, semoga teretas jalan ke jannah Allah dengan silaturahim yang mengikat hati kita semua … alhamdulillahi rabbail ‘alamiin …

                                          di rumah cinta, Ahad, 260415 – 23.38 – love for Aninapiraki … Ana uhibbukum lillaah …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: